Like

Like
Tenang&damai

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Selamat datang...


Tabe...

Silahkan masuk,,,

semoga tidak mengecewakan..

Kamis, 29 Desember 2011

Ronaldo Ogah kembali ke MU

Madrid: Pemain bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo menegaskan dirinya masih betah untuk bertahan di Real Madrid. Ia juga enggan untuk memikirkan rumor seputar masa depannya yang telah dikaitkan dengan Manchester United dan Manchester City.

"Saya tak mau pikirkan mengenai masa depan, tetapi sekarang ini saya tengah menikmati momentum yang ada," ujar Ronaldo ketika ditanya seputar gosip dirinya apakah berniat untuk kembali ke Manchester United.

"Di Manchester saya telah belajar bagaiman bermain, terutama secara disiplin taktik. Tetapi di Liga Spanyol yang saya anggap terbaik di dunia, di sini para pemainnya memiliki kemampuan dan teknik yang lebih mendalam."

"Jadi untuk saat ini saya tak akan meninggalkan Real Madrid. Saya ingin terus menikmati kebahagiaan di sini," ujar pemain asal Portugal itu. (goal.com/DOR)

Nyabu, Oknum Polisi Ditangkap

Jajaran satnarkoba Polres Tanjungpinang berhasil mengamankan empat tersangka pemakai dan pengedar narkoba, yakni IN, 24, SL alias MM, 26, YL, 29, dan salah seorang oknum polisi berpangkat Briptu yang bertugas di Sat Samapta Polres Bintan DK, 27, Sabtu (24/12) lalu.

Selain menangkap empat tersangka, polisi juga menyita barang bukti 71 butir ekstasi logo K dan nomor 1, sepuluh paket sabu seberat 7,2 gram, dan satu paket ganja kering seberat 1,1 gram.

Kasat Narkoba Polres Tanjungpinang AKP Harry Andreas mengatakan, pengungkapan jaringan pengedar dan pemakai narkoba di Tanjungpinang, berawal dari informasi masyarakat. ”Ada info yang mengatakan akan ada jual beli sabu di sekitar parkiran kolam renang Dendangria, Suka Berenang,” aku Andreas. Informasi itu pun dikembangkan dan polisi berangkat ke lokasi. Di sana, polisi menangkap IN yang duduk di atas motor Honda BP 3539 WA sekitar pukul 16.00 WIB.

”Penangkapan IN itu, berdasarkan ciri yang diinformasikan warga,” ungkapnya.

Setelah dilakukan penggeledahan, polisi mendapatkan dua paket kecil sabu, seberat 0,4 gram yang dikemas dalam potongan sedotan berwarna hijau. Dari penangkapan itu, polisi kemudian mengembangkan kasus termasuk mencari asal usul narkoba itu.

Sekitar pukul 19.00 WIB, polisi kembali menangkap SL di Jalan DI Panjaitan, belakang Hotel Central. Dari tangan SL, polisi mendapatkan dua paket kecil sabu seberat 0,4 gram yang disimpan di saku jaketnya.

Polisi kemudian membawa SL ke tempat tinggalnya di sebuah kos-kosan yang juga digunakan sebagai tempat jasa pencucian mobil di Jalan RH Fisabilillah, Batu 5 Atas. Setelah dilakukan penggeledahan, polisi menemukan brankas kecil di ranselnya. Saat itu, polisi tak bisa membuka brankas tersebut karena tak memiliki kunci.

”Terpaksa kita bongkar paksa,” ungkapnya. Dari dalam brankas itu, kembali ditemukan barang bukti narkoba berupa enam paket sabu-sabu seberat enam gram, dan tujuh paket ekstasi berisi 70 butir ekstasi merek K warna merah.

Dari hasil pengembangan, ternyata barang tersebut bukan milik SL akan tetapi milik GN alias J. Polisi pun segera melacak keberadaan J,  yang saat itu sedang berada di tempat kosnya di belakang Karaoke Naff, Jalan Ir Sutami, Suka Berenang.

Polisi pun langsung menggedor pintu kos J. Saat dibuka J, polisi langsung masuk. Tahu polisi yang datang, J langsung kabur melalui jendela kecil. “Sekarang J masih kita cari,” tutur Kasat.

Dari kamar itu, polisi menemukan Yl, 29, kekasih J, dan DN, 27, seorang anggota polisi, yang diduga habis memamakai sabu. Pasalnya, di dalam kamar itu, polisi menemukan dua bong, satu paket ganja kering seberat satu gram, satu seperempat inek merek No 1, dan dua paket kecil sabu seberat 0,4 gram.

”Kita lakukan tes dan Yl dan DN positif menggunakan sabu,” papar Andreas.

Menurut pengakuan SL, dirinya hanya suruhan J, yang mereka kenal sebagai bandar narkoba di Tanjungpinang, mengambil dan menjual narkoba. ”Kalau sudah ada pemesan, saya disuruhnya untuk mengambil di pelabuhan Punggur,” ujar SL.

SL mengaku tidak pernah ketemu dengan bandar besar yang tinggal di Batam itu.

”Kalau mau ngambil di Punggur, dia memberitahu posisi barang yang akan diambil. Sering disimpan di bawah pohon dengan bungkus amplop coklat ,” ungkapnya.

Setelah diambil, barang haram itu lalu disimpan di brankas yang berda di kosan SL, kemudian kuncinya disimpan J.

”Setiap berhasil menjemput barang dari Batam, saya dapat uang dari J Rp500 ribu,” ungkap SL.

SL menambahkan, dirinya memang disuruh J untuk tinggal di Tanjungpinang, sebagai perantara pengambilan dan penjualan narkoba di Tanjungpinang. ”Sudah satu bulan saya di sini (Tanjungpinang),” ujar warga yang mengaku asal Seipanas, Batam itu. ”Saya hanya bertugas mengambil barang dari Punggur,” sebutnya.

Atas perbuatannya itu, keempat tersangka dijerat dengan pasal 112 ayat 1, pasal 114 yat 1 dan 2, pasal 112 ayat 1 dan 2 serta pasal 127 ayat ayat 1 huruf A UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara. ***

HAH?? Kecanduan Ponsel Bisa Memicu Gangguan Jiwa

Ponsel sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia moderen. Sesekali matikan alat komunikasi tersebut, sebab jika sampai kecanduan maka ponsel bisa memicu berbagai gangguan jiwa mulai dari depresi hingga insomnia.
Seorang psikolog dari Lancester Univeristy, Prof Cary Cooper mengatakan bahwa terlalu lama menatap layar Blackberry atau iPhone bisa membuat orang 'mati rasa' atau kehilangan kepekaan emosi. Jika berlarut larut, kondisi ini bisa memicu stres.

"Menatap layar LCD terus menerus bisa membuat seseorang terasing dan kehilangan interaksi dengan lingkungannya. Seperti halnya televisi, kecanduan ponsel juga bisa merampas isi pikiran," kata Prof Cooper seperti dikutip dari The Sun, Kamis (22/12/2011).

Bukan cuma stres secara sosial, kecanduan ponsel juga bisa memicu depresi secara klinis. Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan farmasi bayer mengungkap, 28 persen perempuan mengeluhkan kualitas kehidupan seksualnya yang menurun sejak kecanduan ponsel cerdas.

Stres yang berkelanjutan juga disebut-sebut sebagai sumber dari berbagai masalah kejiwaan. Seseorang yang sedang stres tak cuma mudah depresi, tetapi juga lebih rentan insomnia atau susah tidur yang dampaknya secara fisik membuat tubuh jadi mudah sakit.

Ketika sudah kecanduan ponsel cerdas dengan berbagai fiturnya yang canggih, seseorang juga lebih rentan mengalami gangguan perilaku obsesif. Bentuknya bermacam-macam, namun kebanyakan jadi sering mengecek email, pesan singkat maupun update status di jejaring sosial.

"Teknologi bisa bersifat adiktif (nyandu) sehingga tergolong psikoaktif. Alat-alat seperti ponsel bisa mengubah suasana hati. Karena orang cenderung menantikan kabar baik, maka orang itu akan mengecek ponselnya terus-menerus," lanjut Prof Cooper.

Otak yang terpapar terlalu banyak informasi melalui email atau pesan pendek bisa mengalami kelelahan. Akibatnya pesan-pesan yang sebetulnya penting tapi mungkin kurang menyenangkan, cenderung mudah terlupakan karena fungsi memori di otak mulai menurun.

4 Perilaku Mahasiswa jika Bertemu Dosen di Luar Kampus

Bertemu dengan dosen disuatu tempat diluar lingkungan kampus memang sering kali dialami oleh mahasiswa, entah itu secara disengaja ataupun tidak, dan reaksi dari mahasiswapun bermacam-macam, berikut dirangkum menjadi 4 perilaku mahasiswa jika bertemu sang dosen diluar lingkungan kampus.

1. Mendadak nggak melihat
Biasanya pas ketemu dosen di mall trus tau-tau dia nongol. Supaya nggak mudah dikenali biasanya mahasiswa tiba – tiba memutar haluan, bisa balik kanan, serong kiri, atau mendadak masuk ke toko yang penting jangan sampe bentrok. Ada juga yang cuek sampai akhirnya dosennya yang menghapiri mahasiswanya, Kalimat pertama yg dikeluarkan mahasiswa biasanya “eh bapak ngapain di sini?, maaf kirain bapak nggak liat saya” . Mahasiswa seperti ini kelakuannya mirip koruptor yang menghindar dari kejaran KPK.

2. Sok Akrab
Ada juga mahasiswa yang menjadikannya momentum yang pas buat pendekatan dengan dosennya, kalau perlu sengaja di buat seolah olah nggak sengaja ketemu dosen, padahal kenyataannya diikutin dari kampus sampe mall. Begitu berpapasan langsung sok akrab kayak ibu-ibu arisan ketemu temen-temennya. Mulai dari basa basi yg nggak penting “Kumis bapak keren deh pak!” *pertanyaan macam apa coba!!! Sampai basa-basi yg mulai ga jelas “Pasti bapak mau belanja kan, hayo deh ngaku cie cieeee bapak abis gajian yaaak”. Mahasiswa seperti ini biasanya semester tingkat akhir yang sedang mendekati dosennya agar skripsinya di terima…

3. Jadi Pahlawan
Untuk yang satu ini seorang mahasiswa memang terlihat baik dan tulus ingin menolong dosennya. Ketika berpapasan di tempat umum, ia langsung bertanya “bapak sudah makan belum? Kalau belum mari saya antar pak. *sambil benerin dompet” atau menawarkan diri untuk membawa belanjaannya dan mengantarkannya sampai tujuan. Mahasiswa seperti ini sudah jarang ditemukan sosoknya di jakarta.

4. Berpura pura menelepon
Ini salah satu kelakuan kurang baik apabila dilakukan di tempat yg salah. Kalau ketemunya di pom bensin, tindakan berpura-pura menelepon justru akan mendapatkan teguran dari petugas spbu, dengan begitu dosen yg semula tidak melihat mahasiswanya malah akan melihatnya karena teguran dari petugas tadi. Mahasiswa spesies ini paling banyak ditemui di jakarta karena selain menghindari ketemu dengan dosen, berpura-pura menelepon juga bisa menghindari ketemu mantan, atau tawaran sales kartu kredit di mall.

Dari ke 4 ciri – ciri diatas, kamu termasuk kategori yang mana?

Tamsil Sebar Info Anggaran Rp500 M

Jakarta: Dirjen Perimbangan Kemenkeu Pramudjo mengungkapkan, sebelum dilakukan pembahasan rapat panja untuk membicarakan alokasi Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPPID) bidang Transmigrasi, pimpinan Badan Anggaran DPR Tamsil Linrung sudah menyampaikan mengenai akan adanya alokasi anggaran sebesar Rp500 miliar.

Hal tersebut terungkap dalam persidangan terdakwa Kabag Program Evaluasi dan Pelaporan pada Sesditjen P2KT Dadong Irbarelawan. "Dalam hal ini bukan persetujuan, tapi Pak Tamsil mengatakan pada dirjen saya (Marwanto) bahwa ada alokasi untuk transmigrasi Rp500 miliar," kata Pramudjo saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (28/12).

Menurut Pramudjo, hal itu disampaikan Tamsil saat pertemuan informal 13 Juli 2011 dalam acara rapat panja untuk pembahasan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2011 di wisma DPR, Cikopo, Bogor. Pramudjo dengan tegas mengatakan apa yang diungkapkan Tamsil bukan kesimpulan rapat karena keputusan final baru diputuskan pada 15 Juli 2011.

Tudingan itu dibantah Tamsil. Masih dalam persidangan yang sama, Tamsil mengatakan nilai Rp500 miliar adalah hasil kesepakatan dalam rapat di Cikopo tersebut. "Persisnya saya tidak mengatakan seperti itu. Soal Rp500 miliar diputuskan dalam rapat konsultasi pimpinan Banggar dan pemerintah yaitu pihak Kemenkeu," jelas Tamsil.

Tamsil mengatakan anggaran senilai Rp500 miliar itu dibahas bersama dengan Banggar dan Kemenkeu. Menurutnya dari pihak Banggar yang hadir adalah dirinya dan rekannya Olly Dondokambey. Sedangkan dari pihak Kemenkeu adalah Dirjen Perimbangan Kemenku Marwanto dan beberapa staf.

Seperti diketahui, kasus ini berawal dari tertangkap tangannya kuasa direksi PT Alam Jaya Papua, Dharnawati yang memberikan uang sebesar RP1,5 miliar dalam kardus durian kepada I Nyoman Suisnaya (Sesditjen P2KT) dan Dadong Irbarelawan (Kabag Evaluasi dan Pelaporan Ditjen P2KT Kemenakertrans). Pemberian itu dimaksudkan agar ia dapat menjadi pelaksana proyek PPID bidang transmigrasi di empat daerah di Papua yang anggarannya telah dialokasikan sebesar Rp 500 miliar dalam APBNP tahun 2011. (MI/ICH)

Politik Uang bikin Negara Hancur

Jakarta: Demokrasi di Indonesia saat ini, memberikan terlalu banyak ruang terjadinya pengerahan modal secara besar-besaran, akibatnya politik uang merajalela merusak tatanan demokrasi itu sendiri.  Hal ini juga yang memicu pihak-pihak yang terlibat di dalamnya menjadi kriminal.

Direktur Reform Institute Yudi Latief mengungkapkan dalam diskusi refleksi akhir tahun 2011 di DPP PKB Jakarta, Kamis (29/12). "Kekacauan politik hari ini itu sebenarnya disebabkan satu iblis, yang namanya uang. Uang merusak seluruh tatanan demokrasi kita. Desain institusi demokrasi kita memaksa kita menjadi kriminal," ujar Yudi.

Yudi mengatakan, maraknya praktik politik uang tidak akan sirna, selama tatanan demokrasi masih memberikan ruang besar bagi pihak yang bermodal banyak. Untuk itulah, ia menyarankan adanya pembatasan kampanye dan penyederhanaan mekanisme pemilu. "Selama desain demokrasi beri ruang kapital terlalu banyak, tidak akan sirna. Sederhanakan pemilihan, batasi kampanye," ujar Yudi.

Ia pun menegaskan, jika ingin mewujudkan iklim demokrasi yang berkeadilan sosial, politik harus dipimpin ide, mengedepankan gagasan, tidak hanya modal. "Kalau mau jujur banyak yang tidak mampu bayar modal politik. Terpaksa menjadi kriminal," tukasnya. (MI/RIZ)

67 Persen Masyarakat Aceh Sakit Gigi

Harian Aceh – Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menyatakan 67 persen dari 4,5 juta penduduk Aceh menderita sakit gigi berlubang dan bermasalah dengan gusi. Namun, kesadaran masyarakat Aceh tentang pentingnya menyikat gigi presentasinya mencapai 87,6 persen.


Murid Sekolah Dasar ikut diperiksa giginya secara gratis di gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh, Kamis (29/12). Pengobatan serta pemeriksaan gigi secara gratis tersebut merupakan rangkaian kegiatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional.(HARIAN ACEH | RAHMAD KELANA)
Hal itu disampaikan Manajer Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk, drg Ratu Affifah Mirah Affah, pada penyelenggaraan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) di Gedung Balai Dokumentasi dan Informasi Aceh, Kamis (29/12).

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2007, kata Ratu Affifah, kasus penyakit gigi aktif di Aceh tergolong tinggi, yakni sekitar 41 persen. Akan tetapi, data ini tergolong rendah bila dibandingkan 61 persen warga Aceh yang mengalami pengalaman sakit gigi dan gusi.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Aceh M Yani menjelaskan, penyebab melonjaknya penyakit gigi di Aceh, salah satunya dikarenakan minimnya tenaga medis bidang kesehatan gigi. Menurutnya, terbatasnya jumlah dokter gigi mempengaruhi kesadaran masyarakat Aceh akan pentingnya kesehatan gigi dan gusi.

“Berdasarkan sensus tahun 2010, dia Aceh hanya tersedia 250 dokter gigi yang harus melayani 4, 485, 730 warga Aceh,” ungkapnya.

M Yani melannjutkan, selain faktor kurangnya dokter gigi, di Aceh juga terbatasnya penerimaan PNS dokter gigi di daerah dan terbatasnya penyebaran dokter spesialis gigi di sejumlah puskesmas di daerah-daerah. Kondisi ini, kata Yani akan berdampak pada kelanjutan terhadap layanan bagi masyarakat setempat.

“Bukan hanya minim dokter gigi, tapi masalahnya juga masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gigi yang sehat,” katanya. (mar)